Era Blambangan
Blambangan sebagai akar identitas
Banyuwangi tumbuh dari warisan Kerajaan Blambangan, wilayah di ujung timur Jawa yang dikenal akan kekuatan maritim dan ketangguhan budaya.

Banyuwangi berada di ujung timur Jawa dan memadukan budaya, bentang alam, serta inovasi, dari warisan Blambangan hingga transformasi digital desa.
Penduduk
1.78M+
Luas wilayah
5,782.50 km²
Hari jadi
18 Dec 1771
Desa/Kelurahan
189
Kecamatan
25
Banyuwangi memadukan warisan Blambangan, kawasan pegunungan Ijen, pesisir selatan, hutan tropis Alas Purwo, dan komunitas budaya Osing.
Transformasi digital Smart Kampung memperkuat informasi wisata, layanan desa, ekonomi lokal, dan partisipasi warga hingga tingkat desa.

Sejarah
Sejarah Banyuwangi menjelaskan bentang alam, bahasa, ritual, dan semangat komunitas. Portal ini bukan hanya menampilkan tempat, tetapi juga akar identitas lokal.
Era Blambangan
Banyuwangi tumbuh dari warisan Kerajaan Blambangan, wilayah di ujung timur Jawa yang dikenal akan kekuatan maritim dan ketangguhan budaya.
1771
Perlawanan Puputan Bayu menjadi simbol keberanian lokal. 18 Desember 1771 kini diperingati sebagai hari jadi Banyuwangi.
Era Kolonial
Posisi strategis menjadikan Banyuwangi simpul perdagangan, perkebunan, dan pelayaran yang menghubungkan Jawa, Bali, dan Indonesia timur.
Era Modern
Kini Banyuwangi dikenal lewat wisata alam, festival budaya, usaha kreatif, dan layanan digital Smart Kampung.
Identitas lokal
Masyarakat Osing menjaga bahasa, rumah, kuliner, musik, dan ritual yang memberi Banyuwangi karakter khas di Jawa Timur.
Seni pertunjukan
Gandrung mewakili keramahan, rasa syukur, dan kebanggaan komunitas. Pertunjukan akbar Gandrung Sewu menjadi etalase wisata utama.
Ritual agraris
Ritual ini mengekspresikan doa keselamatan, kesuburan sawah, dan penghormatan pada siklus pertanian yang masih hidup di desa Osing.
Upacara sakral
Seblang adalah ritual sakral desa yang memadukan tari, musik, dan doa bersama sebagai bentuk pembersihan serta penghormatan leluhur.
Kuliner ritual
Warga berjajar di jalan desa dengan tumpeng dan lauk-pauk sebagai tanda syukur, gotong royong, dan keramahan hangat.
Ikon lokal memadukan alam, budaya, desa wisata, dan ruang publik modern sebagai wajah kompetitif Banyuwangi.
Ikon geowisata dunia dengan blue fire, danau kawah biru toska, dan lanskap pegunungan yang dramatis.
Panggung budaya massal yang menunjukkan komitmen Banyuwangi dalam menjaga seni pertunjukan lokal.
Ruang belajar hidup budaya Osing melalui rumah tradisional, kopi, makanan, musik, dan ritual.
Kawasan tepi laut yang menghubungkan ruang publik, festival, dan wajah pesisir modern Banyuwangi.
Melindungi aset alam lewat konservasi dan pariwisata yang bertanggung jawab.
Menjaga tradisi dan seni lokal sebagai identitas bersama.
Memanfaatkan teknologi untuk informasi wisata, layanan desa, dan pertumbuhan usaha lokal.
Mendorong warga yang kreatif, produktif, dan tangguh.
Bekerja bersama komunitas, pelaku usaha, dan pemerintah.